Butuh Info Parenting Seputar Plus Minus Jamu bagi Ibu Hamil?

Januari 19, 2019

info parenting


Jauh sebelum obat-obatan kimia ditemukan, jamu sudah dipercaya oleh nenek moyang sabagai salah satu cara penyembuhan alternatif. Bahkan, sampai saat ini pun banyak info parenting yang membahas tentang jamu, khususnya bagi ibu hamil. Lantas, apakah semua jamu boleh diminum ibu hamil? Berikut plus minusnya yang perlu diketahui semua orang.

Mampu Mengatasi Morning Sickness

Umumnya, jamu tradisional yang disarankan untuk diminum ibu hamil pada trimester pertama kehamilannya bertujuan untuk mengalami morning sickness. Seperti yang banyak orang tahu, perasaan pusing, mual, dan muntah sering dikeluhkan ibu-ibu yang sedang hamil muda. Jenis herbal yang dipercaya mampu mengatasi masalah ini adalah jahe.

Jamu jahe sangat mudah proses pembuatannya, yaitu dibersihkan, dibakar hingga ke luar minyak atsirinya, kemudian digepuk dan diseduh air panas. Sayangnya, minuman ini harus sekali minum.

Anda tidak dianjurkan untuk membuat dalam jumlah banyak dan menyimpannya dalam kulkas karena bisa terkontaminasi jamur atau kapang dan bakteri. Selain itu, sebaiknya hindari meminum jamu dalam kemasan karena biasanya sudah ditambahi pengawet. Terkecuali jika dosis pengawetnya sudah teruji aman oleh BPOM.

Tidak Butuh Keahlian Khusus

Jika obat kimia butuh ahli farmasi atau apoteker dalam peracikannya, maka jamu tradisional tidak memerlukannya. Hal ini dikarenakan sebagian besar pengolahan jamu melibatkan proses pembersihan, perebusan/ pembakaran, dan penyeduhan. Jadi, Anda bisa benar-benar membuatnya sendiri di rumah.

Minusnya, tidak semua bahan herbal aman aman bagi pertumbuhan dna perkembangan janin. Mengolah jamu memang mudah, tapi sama seperti obat kimia, untuk dosis dan takaran menjadi salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pembuatannya. Pada beberapa kasus, dosis pas memberi banyak manfaat, tapi jika berlebih bisa memberi dampak buruk.

Minim Efek Samping

Inilah salah satu alasan utama orang-orang yang memilih jamu dibandingkan obat-obatan kimia buatan pabrik. Semaksimal mungkin ibu hamil tidak mengonsumsi obat karena beberapa kandungan dalam obat tidak hanya menyerang kuman (bakteri atau virus) penyebab penyakit, tapi juga berdampak buruk pada janin.

Tapi, ada info parenting yang sangat penting untuk diketahui ibu hamil. Seperti yang diulas pada poin satu, dosis dan takaran bahan herbal yang aman dijadikan jamu ibu hamil masih belum banyak diteliti. Terkecuali jahe, daun peppermint, dan daun raspberry merah, sebaiknya gunakan dosis minimal untuk bahan herbal lainnya.

Kemudian, untuk kencur, rosemary, dan gingseng yang dijadikan bumbu masak, masih boleh masuk ke dalam tubuh ibu hamil. Alasannya karena takaran untuk bumbu masak biasanya sangat minim dan hanya pelengkap (penyedap), beda dengan jamu yang menjadikan tanaman herbal tersebut sebagai bahan utama.

Diminum atau Obat Luar

Jamu tradisional bisa dijadikan minuman maupun obat luar (balur dan siram). Untuk jamu jahe, biasanya dimanfaatkan dengan cara diminum. Sedangkan daun sirih biasanya dijadikan obat luar, seperti membersihkan daerah kewanitaan dan mandi.

Daun sirih efektif mengatasi keputihan serta menyeimbangkan pertumbuhan bakteri dan jamur yang biasanya meningkat selama masa kehamilan. Selanjutnya, dengan mandi air rebusan jahe sebagai bilasan terakhir, bau badan akibat produksi keringat berlebih pada ibu hamil bisa diatasi.

Tapi, pada beberapa kasus, jamu yang dijadikan obat balur dan terserap ke pori-pori bisa menimbulkan reaksi alergi seperti gatal-gatal dan ruam kemerahan. Pastikan jika Anda tidak memiliki riwayat alergi terhadap bahan herbal yang digunakan.

Selanjutnya, info parenting yang mengulas tentang boleh tidaknya minum jamu tradisional bisa Anda peroleh secara mendalam di Orami Magazine. Anda juga bisa menjadikannya referensi utama tentang bagaimana menjaga kehamilan, mendidik anak, dan lainnya.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »